Saturday, March 12, 2016

Diary Anak HI #1: Curcol Banyak Tugas di Unpad

Disclaimer: Huaa ngantuk...... Eh, hai.... Jadi gini, karena gue lagi ga ada ide untuk bikin tulisan yang rada berat dan serius untuk dijadiin bahan bacaan ga penting kalian di internet. Akhirnya gue memutuskan untuk #curcol (Lha, apa dha), bukan sih, lebih tepatnya mungkin sharing-sharing lucuk tentang bagaimana sih kehidupan seorang mahasiswa FISIP yang katanya santai ga ketulungan itu. Terlebih mahasiswa HI yang sengklek pinter-pinter, tapi gue ga termasuk. Jadi jan lemparin gue pake tutup botol ya kalo kalian malah nganggep ini agak nyampah. Abis mau gimana, yang penting update dulu aja lha ya di blog yang sayang Viny ini.

Menjalani kehidupan yang jauh dari rumah itu selalu terasa menyebalkan. Terkadang gue sering iri sama teman-teman gue yang ga harus nunggu jadwal untuk pulang ke rumah mereka karena mereka masih tinggal satu atap sama orang tua mereka re: masih ga perlu ngerjain apa-apa sendiri. Sementara gue sekarang jadi anak rantau yah, meskipun jarak Jakarta-Bandung cuma tiga jam setengah.

Sekarang pun, gue merasa masih pengen pulang, kalo bisa bahkan PP-in aja Jakarta-Bandung tiap hari. Sayangnya, mengingat uang dan transportasi yang sangat terbatas re: gapunya motor dan duit jajan ngepas, gue akhirnya hanya bisa diem aja di kostan kayak batu apung yang lama banget ga disentuh-sentuh.

Hal lain yang ngebuat gue kangen dengan rumah adalah ini, banyak tugas. Secara, sepertinya cuma di HI Unpad lha tugas tidak berbanding lurus dengan jumlah mata kuliah yang diambil mahasiswa. Jadi kuliah itu berbanding lurus dengan SKS yang diambil mahasiswa (maafkan analisa ngaco saya) yang ngebuat gue telak jadi kayak manusia haus *pip* dekidol di f(x) sana.

Yah, meskipun gue harus akui bahwa tugas gue ini sedikit banyak ngebantu gue untuk memahami materi-materi ga jelas HI yang kata orang ampun-ampunan ruwetnya, tapi sedikit ada rasa mengganjal bahwa gue itu bukan kuli tugas, tapi mahasiswa yang harusnya di didik berpikir kreatif-kritis agar supaya bisa membangun Indonesia jadi lebih baik.

Yang bikin bete adalah, karena tugas-tugas yang dikumpulkan itu, yang isinya berlembar-lembar halaman folio, ber-kilobyte-kilobyte dengan sangat hakulyakin (halah, apaan sik) bisa gue simpulkan bahwa dosen-dosen yang terhormat itu ga bakal baca tugasnya. Serta, dengan sangat yakin pula, karena ga baca itu mereka ga tau kemampuan anak didiknya seperti apa. Lah iya, bayangin, temen gue yang ambisnya, ngelebihin tinggi Burj Khalifa yang di Dubai itu, sekali bikin tugas sepele aja bisa ngabisin 8 lembar. Temen gue yang lain, cuma jawab tiga pertanyaan aja bisa bikin makalah 21 halaman, belom sama isi dafpus yang gue yakin bisa tiga sampe empat halaman.

Jadi bayangkan teman-teman, apakah dosen gue sanggup untuk ngebaca tugas itu semua, belom tugas dari kelas lain. Bayangkan, apa yang sebetulnya mereka lakukan selain ngeliat panjang tugas dan berbanding lurus dengan nilai mereka. Ya, gue yang sekali bikin tugas cuma 3-4 halaman dengan seperempat halaman dafpus mah bisa apa selain berharap C.

Hal-hal yang bikin bete inilah, yang membuat gue bertanya apa sih esensi pendidikan di Indonesia? lha kok jadi serius ngene bahasanne Apa iya memang membuat manusia Indonesia menjadi manusia yang berkualitas berlandaskan iman dan takwa. Kok ya tak rasa-rasani itu cuma slogan omong kosong kurang kerjaan para pegawai kementerian yang gabut-gabut (meskipun ndak semua lho ya, gue masih melihat beberapa pegawai yang berdedikasi kok, untuk ndak nyebut institusi biar ga GEER). Atau sebetulnya, esensi pendidikan Indonesia itu cuma kayak ucapan salah satu teman, merangkap tutor, merangkap asisten dosen dan seorang mahasiswa tingkat lanjut di HI Unpad, "Ngebuat mahasiswa ejakulasi dini"?

Jadi gimana gengs, sebetulnya kita itu manusia tercerahkan atau kuli yang berijazah?

Maafkan kalau jadi hate speech ya. Ciao, gue mau tidur dulu, balas dendam kurang tidur seminggu terakhir. Aku ga cinta kamu, cuma cinta @N_ShaniJKT48@Viny_JKT48 dan @kinalJKT48. Hehehehehe, maafkeun..

1 comment: